Beberapa hari sebelumnya. Kala langit senja berwarna jingga keemasan, terlihat Kael duduk bersandar di akar pohon besar memandang Narendra yang datang mendekatinya.

"Kael, kemampuanmu sudah semakin meningkat, instingmu bertarungmu sangat luar biasa. Jika ranahku tidak lebih tinggi beberapa tingkat darimu, pasti aku tidak akan bisa mengalahkanmu." Puji Narendra yang sejak lama mengagumi kegesitan Kael dan setiap gerakannya selalu mengarah kepada kematian.

"Kita harus menjadi kuat agar bisa mengalahkan lawan, jika tidak mampu menjadi kuat maka kita harus lebih ahli menguasai taktik dan strategi menghadapi lawan." Kael menjelaskan sambil tersenyum.

"Diduniaku, kami dilatih siang malam dengan berbagai siksaan untuk menjadi kuat. Dilatih untuk mampu bertahan hidup dan menghadapi berbagai lawan. Di dunia ini juga sama, kita harus kerja keras untuk menjadi kuat. Tetapi karena harus mengutamakan menemukan penduduk Surya terlebih dahulu, kita belum bisa berlatih dengan baik." Lanjut Kael.

Narendra menganggukkan kepala, "Kamu benar Kael, aku juga ingin berlatih lebih giat lagi setelah suku Surya kita temukan. Sekarang ini jika kita berkultivasi, waktu berjalan tanpa terasa, membuat kita kehilangan waktu menemukan mereka."

Setelah terdiam sesaat, Narendra mendesah panjang,"Seperti katamu, kita memang perlu kuat untuk menghadapi lawan, tapi sekarang kita harus menemukan petunjuk terlebih dahulu dimana keberadaan suku Surya dan mengandalkan kepala Suku untuk menghadapi lawan yang kuat."

Kael melemparkan sebuah apel ke arah Narendra dengan kuat. Narendra menangkapnya dengan santai.

"Jangan mencari alasan. Kamu bisa berlatih, biarkan aku bersama yang lainnya menemukan mereka. Kami akan membutuhkan kekuatanmu selama Lynx tidak ada, jadi kamu harus bisa menjadi lebih kuat lagi." Kata Kael sambil menepuk bahu Narendra.

"Kael... kamu memang suka membuat kesal." Kata Narendra sambil menggigit apelnya. Meski terlihat kesal dengan kata-kata Kael namun dia membenarkannya. Selama tidak ada gurunya, dia yang harus melindungi mereka semua.

Narendra mengeluarkan kertas formasi milik gurunya, untuk mengetahui kondisinya baik-baik saja. Kertas formasi ini seperti batu jiwa, dimana kondisi pemiliknya akan terlihat dari pada kertas, namun kertas formasi milik gurunya ini memiliki kelebihan lain, selain dapat untuk meminta bantuan, juga dapat mengetahui arah dimana gurunya berada.

"Lynx masih di dunia lain. Semoga dia bisa memberi pelajaran pahit untuk komandan Vex." bisik pelan Kael sambil mengepalkan tangannya, mengingat dendam pribadi yang dimilikinya.

Tiba-tiba Arkha datang membawa gulungan kertas ditangannya. Sebuah informasi dari mata-mata mereka yang tersebar.

"Bukalah Kael!" kata Arkha sambil menyodorkan kertas tersebut.

Kael segera membuka gulungan laporan yang dia terima dan membacanya bersama Narendra. Mereka berdua merasa terkejut karena Karim menghilang setelah pergi seorang diri menuju desa Chiyang untuk memeriksa kemungkinan adanya energi iblis di desa tersebut.

"Kael," ucap Narendra sambil menggeser duduknya mendekat, "Apa yang terjadi menurutmu?"

Kael memandang Narendra. "Aku tidak tahu, tapi yang pasti kita harus segera berangkat kesana untuk menemukan Karim. Aku merasa sesuatu yang besar telah terjadi."

"Kael benar," jawab Arkha singkat. "Kita harus memastikan dia baik-baik saja, apalagi jika benar di desa itu terdapat energi iblis, itu bisa membahayakan nyawanya."

Narendra mengangguk cepat, nadanya sedikit tegang, "Baiklah, kita tak bisa santai, kita berangkat segera, kita tidak bisa membiarkan Karim menghadapi itu sendirian."

Kael mengangguk pelan. "Karim bukan orang sembarangan, dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri." Kata Kael untuk menenangkan, namun nada khawatirnya masih terasa.

Arkha memandang Kael dalam diam beberapa saat, lalu bertanya, "Haruskah kita beri tahu Lynx dan Leena? Mereka mungkin bisa membantu."

Mendengar itu, Kael langsung menggeleng. "Tidak. Jangan ganggu Lynx kecuali benar-benar tak ada jalan lain."

Nada suara Kael terdengar lebih keras dari biasanya, namun bukan karena marah, lebih karena khawatir.

"Lynx dan Leena sedang berjuang menyelamatkan Lala. Fokus mereka tidak boleh terpecah," lanjut Kael. "Kalau kita bisa menanganinya, kita tangani. Baru kalau semua upaya gagal, kita panggil dia."

Arkha duduk bersila, menatap lapangan luas di hadapannya. "Tapi dia sudah lama tidak kembali. Apa mereka baik-baik saja?"

Kael memandang langit, lalu menghela napas panjang. "Lynx… kemampuan bertarungnya berada jauh di atas siapapun yang pernah kutemui. Di duniaku, tak ada yang bisa mengalahkannya dalam duel."

Narendra mengangguk perlahan. "Tapi?"

"Tapi musuh mereka bukan hanya kuat. Mereka licik." Mata Kael menyipit. "Mereka tak akan melawan secara terbuka. Mereka bermain dengan tipu daya, ilusi, jebakan. Tapi aku yakin, Lynx bukan hanya kuat, dia juga tidak mudah tertipu. Dia pasti bisa menghadapi semua akal muslihat mereka."

Arkha menatap Kael dengan penuh keyakinan. "Kalau begitu, kita juga tidak boleh tinggal diam."

"Benar." Kael berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya yang berdebu. "Kita akan ke Chiyang. Cari Karim, dan kalau bisa… cari petunjuk tentang Suku Surya."

Arkha berdiri dan menatap Kael dan Narendra, "Kapan kita berangkat?"

Kael menatap mereka berdua, lalu ke arah matahari yang mulai tenggelam.

"Malam ini."

Narendra menghela napas dan tersenyum tipis. "Kau benar, lebih cepat, lebih baik."

Mereka bertiga lalu berjalan perlahan menuju paviliun bulan perak. Selama perjalanan mereka membahas pengaturan organisasi termasuk memikirkan rencana untuk Jelita.

***

Langit malam masih redup saat Tetua Xie Lian menyusuri jalur tersembunyi di balik lereng perbukitan. Ia mengenakan jubah kelabu yang sudah pudar, langkahnya cepat namun sunyi. Nafasnya tertahan. Dia memandangi kunci dimensi di tangannya. Sebuah artefak kecil yang di curinya dari ruang rahasia sekte Api Langit.

Setelah membunuh ketua sekte Api Langit dan mengambil kunci dimensi yang di sembunyikan, Xie Lian bersembunyi karena menghindari pengejaran para murid sekte Api Langit dan para tokoh yang berusaha merebut kunci dimensi.  Selain itu yang paling dia khawatirkan adalah sosok misterius yang dapat dengan mudah mengalahkan seorang Immortal.

"Kurasa sudah cukup lama aku disini. Tak bisa terus bersembunyi," gumamnya. "Aku yakin mereka sudah kehilangan jejakku, Aku bisa ke kerajaan Jinghai sekarang untuk mengambil fragmen senjata iblis."

Ia mengepalkan tangan, menatap ke arah timur. "Setelah fragmen senjata itu kudapatkan, aku akan menyerahkannya langsung kepada kepala keluarga."

Lalu ia mulai berlari cepat, tubuhnya bergerak secepat angin. Tanpa suara, tanpa jejak, menyatu dengan bayang malam.

Namun tiba-tiba, tanah di bawahnya bersinar. Cahaya ungu muncul seperti jaring laba-laba dari tanah dan menjerat dirinya.

"Apa...?!"

Di depannya, muncul sesosok wanita muda, rambutnya seputih salju, berdiri dengan kedua tangan merapal mantra yang tak dikenalnya. Suara rapalan itu menggetarkan udara.

"Siapa kau?!"

Xie Lian berteriak, mencoba membangkitkan qi spiritualnya. Tapi tubuhnya seolah terkurung.

"Kekuatan ini… mengunci dantianku?" gumamnya dengan ngeri. "Mustahil!"

Wanita itu tersenyum tipis. "Kunci dimensi. Serahkan, atau aku akan mengambil secara paksa darimu."

"Berani sekali kau!" raung Xie Lian. Dia merasa kaget karena wanita muda di depannya ini berani menghalanginya dan tahu dia membawa kunci dimensi.

Dengan sekuat tenaga, ia menghantamkan qi spiritualnya ke dalam tubuh. Cahaya emas meledak dari balik kulitnya. Jaring sihir yang melingkupi tubuhnya pecah berkeping.

Dengan aura grandmasternya yang meluap, Xie Lian langsung menerjang, menebaskan pedangnya yang dialiri qi spiritual, mengirimkan gelombang qi membelah tanah.

Namun wanita itu menghilang dan muncul kembali di sisi lain, ranah auranya berubah-ubah, kadang seperti Grandmaster, kadang hilang seperti hampa.

"Bagus, ternyata kamu bisa menghindari seranganku." desis Xie Lian. "Namun serangan berikutnya akan memotong kepalamu jika tidak menjelaskan siapa dirimu dan apa maumu?"

"Kurasa kamu pantas mengetahui siapa orang yang akan membunuhmu. Aku Rira," jawab wanita itu dengan suara dingin. "Serahkan kunci dimensi jika masih menginginkan nyawamu tetap ada di badanmu."

"Wanita gila." Bentak Xie Lian. Dia bergerak lagi dengan niat membunuh lawannya. Dia tidak ingin menunda waktu dan harus segera menghabisi lawan sebelum rekan wanita ini datang membantunya.

Rira maju menghadapi serangan dengan santai, bibirnya mengucapkan mantra tanpa henti.

Berbagai serangan datang bertubi. Mantra sihir berpadu dengan teknik teleportasi, membuat Xie Lian kewalahan. Tiga kali terkena hantaman langsung, dan satu kali tubuhnya nyaris tertusuk oleh cahaya ungu yang melelehkan batu. Selain itu dia merasakan keanehan, kekuatan qi spiritualnya berkurang drastis terhisap.

"Tidak bisa diteruskan begini!" geram Xie Lian.

Ia melesat ke langit, terbang membelah awan ke arah berlawanan dengan tujuannya. Dia melarikan diri dan ingin bersembunyi lagi. Dalam sekejap, ia sudah menempuh ratusan kilometer. Namun saat hendak melanjutkan perjalanan...

Tubuhnya mendadak tertarik ke bawah dengan cepat tanpa dapat di cegah.

